Pages

Minggu, 14 Maret 2010

I’m about to face challenges in life—do I dare?

By
Sinta Dien Wulandari

Wake up very early in the morning, go to work until late afternoon, try to be a “nice” translator, and then go home in the evening. That was my newest daily activities lately. Well, don’t you think that I’m a “real” translator, no I’m not!! I’m in training. it’s not ordinary you know, due to I’m a colleague who still struggle for my studies and research paper’s preparation. Being a translator is not interesting as I thought. Hard, since I have to translate a technical manual which I don’t familiar with, totally out of topic of my studies—English Literature. As an “unprofessional” translator who hasn’t certificated, I’m trying to do as best as I can, practically finishing it with translation’s theory I’ve got so far. Further, it was my newest challenge recently.



At the first time I stepped my foot in this company, everything was sooooooo strange for me!! The building, the stuffs, the people, the work (which is at that time I didn’t know anything about it—get use to some technical terms). I started to translate a manual, worked for hours in front of computer, in front of my boss-- due to the department is preparing for switch to other building’s office, furthermore each employee in that department is working in the same room with the manager—ahh pathetic, it is so intimidating!! Moreover, I work in the middle of people who I didn’t know well, it was goddamn boring, and I felt time went so slow. I’m not a kind of person who easily gets involved; I need time to make my self comfortable slowly. With this new challenge, I forced my self to be easily adapted with those things.


Today is my 9th days in this big city; I’ve learned pretty much a lot of Jakarta’s habitual, they works fast and professionally, they appreciate time, the way they walks are eager—we cannot walk slow or I bet you will left behind and the bus . But, among those sophisticated people, you must mind with them because “bad” people are around, the criminal could happen sometimes. Once I heard that “Do not ask stranger in this city!” even for the nice one, because they are un-trustable. In the other side, my colleges are nice people actually, they spread positive thought for me, really support me in work; they teach me how to be easy going in workplace and the people also.
Well, it was the folks.

Selasa, 26 Januari 2010

Curhat mahasiswa semester akhir: Life begins unfair...

Siang ini saya tiba-tiba kepengen nulis, ketika dari tadi saya cape ngutak-ngatik catatan kuliah yang salama ini saya dapat, dan berharap dapet ilham buat nulis proposal skripsi, ditengah lamaran surat magang saya yang belum juga di gubris oleh beberapa instansi, dan lebih parahnya saya mengetahui banyak nilai mata kuliah di semester 7 ini yang menurutku “tidak adil” diberikan kepada sayah… (what a pathetic student)
Baru terfikir saat ini, kenapa dulu saya mau masuk jurusan bahasa inggris, alasan pertama memang saya suka (baca: suka nonton film berbahasa inggris, sukan dengerin lagu berbahasa inggris, seneng nulis2 dalam bahasa inggris walupun waktu itu grammarnya ngaco abis, termasuk punya impian buat ketemu sang idola Michael Owen), alasan kedua karena ini second choice guys, pilihan pertama saya adalah Akuntasi (sangat tertarik menjadi ahli di bidang ekonomi) walaupun sebenernya sih im not good on math, well, tapi satu titik balik yang menjadi perenungan saya adalah Allah sudah memberikan jalanya disini (baca: sastra inggris), dengan segala jalan, hambatan dan solusinya (amien), Dia selalu tau dimana seharusnya kita berada. Selam 3,5 tahun ini saya akui saya sekarang punya 4 skills dalam inggris yang memang it’s a must, they are included reading, listening, speaking and writing. Namun ternyata, menjadi mahasiswa “sastra” adalah pilihan yang agak sulit, disamping basic art and history gw ngga begitu kuat. Al hasil, selama ini saya memperkaya dunia sastra basically bukan kecintaan yang saya tumbuhkan sendiri, tapi “mereka” (the lecturers), sulit, karena kita mencari issue yang tidak tertulis secara exsplisit di dalam text, bahasa lainya, kita melihat seseuatu yang tidak bisa diliat.. (freak…), jadi buat menganalisis sebuah teks sastra kita harus punya thoritical framework yang kuat, jadi argument kita ngga dianggap subjective.
Well,well,well… banyak mata kuliah yang terus terang hampir bikin mata saya copot (karena harus baca jurnal literature yang bahasanya ribet plus ditulis dengan font yang kecil2), hampir bikin otak saya keluar berhamburan (karena harus memahami berbagai theoretical framework, yang “astagfirullah” itu), tapi, dengan segala keterbatasan yang saya punya, tentu usaha maksimal saya, akhirnya saya bisa lulus juga dari mata kuliah yang ada judul “critical” dan “criticism”, entahlah walaupun hasilnya jauh dari memuaskan tapi saya Cuma bersyukur bisa melewatinya—termasuk selama itu sleep disorder,eat disorder, relathionship disorder gak kalah ikutan pengen nemenin.
Opps, kayanya belom menyinggung judul nih, jadi kebanyakan introduction, xixix. Pengakuan seorang mahasiswa biasa, mahasiswa yang belum pernah menduduki rangking pertama dengan IPK yang berada di jalur aman, tidak atletis, tidak juga artistic, tidak pandai bermain music, tidak punya bakat yang bisa dibanggakan, tidak mendapat piala karena banyak baca buku, dan selama 21 tahun menjadi seorang yang biasa-biasa aja , dan terbiasa menjadi orang yang rata-rata. Dan baru sadar udah lama banget melupakan aspirasi untuk setidaknya “berkilau” dalam bidang apapun (hahah… kesanya low self-esteem bgt ya). I just do as the best as I could, tidak pernah benar-benar cocok dalam “dunia” ku. Saya shock, mendapati nilai-nilai semester ini yang saya rasa tidak “adil”—orang yang mengerkajan tugas dengan sungguh-sungguh (baca: rela begadang setiap malam, melewatkan kencan beberapa minggu, dan segala pengorbanan lain) harus mendapat nilai lebih kecil dari orang yang tidak seriously mengerjakan tugas (baca: ngerjain tugas pas 3 jam lagi mo dikumpuli, asal-asalan, tapi dia deket sama “sang dosen” karena sering “berurusan”) they easily got A or B!! see, where is the justice????—ternyata bukan di dunia hukum kita aja yang udah ngga ada keadilan, even for this small cases juga kalo disadari, udah ngga ada yang namanya adil. Terlepas dari bagaimana cara penilaian para “dosen yang terhormat” itu mengukur kemampuan mahasiswanya—but I do believe there is something wrong.
What to do girls, semua nilai yang tertuang dalam “academic line” itu semua fake!! Ga peduli deh, walupun nilai A, tapi keropos alias we got nothing, now I totally don’t care!!! Semua itu kembali sama individu masing-masing, yang terpenting adalah apa yang sudah kita dapat selama belajar dalam mata kuliah itu, dan bisa diaplikasikan di dunia real!!
Anyway, thanks for reading this ‘stupid text’, and I would be glad if u wanna share with me with put forward yours in comment box… :D

Minggu, 24 Januari 2010

The truth is Ugly, isn't it?


Gee, I just bought some new DVD’s lately, then enjoyed one of them which totally it’s hardly forgotten and it was “The Ugly Truth” staring by Gerard butler and Katherine heigl, and it was just amazing, funny and fantastically romantic. I just lill bit surprised knowing what is actually man’s thinking about woman and vice versa which is socially true.
First of all, Mike (Gerard butler) said that ‘man are visual’, they attracted of women by their appearance! See, that’s what we can’t be denied—millions of girls keep fuck*n (sorry from this inconvenient word, just lill bit influence by the movies I saw lately =D) trying make man’s eyes out by change their look [from ugly-pretending to be beautiful, from simple become not simple, and so forth] by seeing this it’s all fake everyone, because the truth is ugly! No body could love at the first sight by its personality, no one! One thing, He said, man are interested to see women ass and their tits.. (Goddamn it, are you really doing this guys..???)
Second of all, he said “never talk about your problem, because men don’t really listen or care”, that’s terrifying knowing this truth, o my god!! Well, some are care, but they must be pretend to care!! See, So what we have been guy, is that true? At time I just screwed up my mind, and what mostly they indeed want from relationship if they actually don’t care about our problems??—was it emotionally connected or just physically intention, or what..? In fact, Men are totally not simple, they just freak*n complicated. Surprisingly, when he asked you “how you’re doing”, it means (its guy code for: “Let me stick my dick in your ass) hahaha… lol, you are completely nuts guys…!! I mean, probably it depends on the culture, no worries; I do still believed that they are some who asked it sincerely.
Another case, I just realized that when we love someone, sometimes we pretend to like something which we don’t like, like not being the way we are, example, when we used to had first dating, we used to be dressed as perfect as we could, act perfectly and so forth —but that’s how it’s going, it indeed happen to us! Looking and see how’s everything going, I can assume that’s there is no ‘ideal’ relationship, since it always deals with two different heads with two different wanted. Pathetically, I don’t have healthy relationship since we usually spent our Saturday night separately, well; I mean I don’t make this thing as a big deal, no, but sometimes a question such “Malem mingguan kemana?”, that honestly disturbing questions. Well, okay, this don’t have something deals with the issue which previously I wrote, it just kind of ‘curhat keci” or I must say “keluh-kesah” which I don’t where I have to put it down, but I thank god so far my bf is someone who can love me the way I am (I wish..), knowing my bad fart, how do I look like when I just get up and all, hopefully, he receives my ugliness—not just love me physically but also my personality 

Senin, 07 Desember 2009

That's what friends are for...

Suatu hari dalam perjalanan pulang menuju rumah, tiba-tiba saja terbesit dalam fikiran saya, ingin menulis sebuah tulisan tentang 2 teman dekat saya, yang sebentar lagi akan saya ceritakan dalam tulisan ini. Perkawanan kami tidak lah disengaja, mereka adalah teman satu perjuangan saya selama ini dalam menempuh perkuliahan di sastra inggris, saat ini kami adalah mahasiswa tingkat akhir (bisa disebut gitu kali yaa) karena tidak terasa perkuliahan hanya tinggal 3 minggu saja, setelah itu kami akan sibuk dengan kegiatan magang dan skripsi. --- oke, kembali sama 2 teman unik saya, secara kebetulan kami selalu pergi menjalani aktifitas kampus bersama, mulai dari ngerjain tugas, nongkrong dan berfoto geje di parterre, makan siang di kopma, atau menunggu perkuliahan selanjutnya di kosan ledeng. Saya tidak pernah bermaksud untuk ber”gank” pada dasarnya saya senang berkawan dengan siapa saja, tapi tentunya tidak bisa dipungkiri juga jika semua orang pasti punya teman terdekat yang tentunya memiliki minat dan ketertarika yang sama. Saya dan 2 teman saya (jadi bertiga yaa…), kami adalah mahasiwa sastra (dalam sastra inggris ada 2 konsentrasi yang haru kita pilih: linguistic atau literature), sehingga hampir setiap harinya kita bertemu dalam mata perkulihan yang sama. Well, that was short story everyone, mungkin kalo semua diceritakan in detai disini tidak akan cukup makan satu page.





Ini dia mereka:
Ghea Lizanova: cewek cantik, tinggi sekitar 155cm, dan berat badan….. (hmmm… isi sendiri aja y sist… haha). Cewek kelahiran Kuningan, 29 Desember 1989 ini adalah cewek yang sangat berbakat (meskipun pernah ada yang bilang kalo doi cewek berskill standar,,,*ooopppsss whatever, just forget this one!!) yes she is, doi yang bercita-cita menjadi musisi ini memang jago banget main alat musik, main gitar, keyboard, drum, hmmm nyanyi juga bisa… mungkin kalo dia bikin band sendiri pun dia sendiri yang menjadi semua personilnya (haaha…. Ngga mungkin juga kali ya) ---- bahkan terkadang saya merasa “minder”, gara-gara sampe saat ini saya belum berhasil menguasai alat musik satu pun, selai alat tiup recorder yang diwajibkan mampu memainkan nya waktu ujian EBTA praktek dulu *lol (gitar bisaa lah dikit2.. hehe), yup itu baru satu skill yang doi punya, selanjutnya doi juga pinter menulis, suatu ketika saya agak terkejut teman saya ini menunjukan Draft novel yang berjudul “Cinta dodol” yang mau dikirim ke gagas media (saya sempet baca dulu, and give comment pastinya), hey… ternyata she’s good on it! Juga dia pintar menulis cerita (kamu batu sist…! I mean you Rock!^^) keahlian yang seharusnya dimiliki oleh semua anak sastra, --- however, draft novelnya itu belum ato ngga di gubris sama sang punbliser, okay dude, it was nice try… keep on trying!, selain nulis cerita, cewek yang sedang menjalani hubungan LDR dengan pacarnya ini juga bisa menulis lagu, dalam hal gaya juga ngga ketinggalan, modis, dan nyentrik itulah gaya nya, semua potongan rambut pernah dia coba (kecuali botak yaa), ahhh….. satu lagi keahlianya, dia bisa mengoprasikan dengan baik adobe photoshop dan adobe audio… (see, masih ada yang mau bilang dia cewek beskill standar…) huh… kalo jadi cowo mungkin aku juga udah cinta ama ni cewek (well, fortunately I’m a woman too… *lol^^).
Fauziah omar Abdat: dari namanya aja, pasti kita bisa menebak kalo cewek ini keturunan arab or something gitu…?? (hahaha…). Yes, indeed. Cewek cantik dan tinggi ini, (hahaha… harus bilang gitu yaa) tinggi karena doi punya tinggi standarnya cewek bule, hmmm sekitar 170han gitu dehh… dengan berat badan yang cukup proporsional. Cewek yang lahir di kota hujan, kota taleus dan kota asinan ini (lengkap bangett dah….) juga punya keahlian yang sama dengan teman kostannya (we may say the girl next door… *lol) yaitu bernyanyi, ngga jarang menemukan headset di telinganya sepanjang jalan dan menyanyikan lagu grup band favoritnya paramour, belum lagi kalo udah nyanyi-nyayi juga di kamar mandi (untung aja suara lo bagus jong…), selain pinter nyanyi doi jago banget menirukan dialect singlish dan melayu (secara yaa…. *ngomong gaya anak gaul) yang kadang bikin kita ketawa-ketawa ngedengernya. Oh iya, doi juga hebat banget dalam edit-mengedit foto (maksudnya mengedit foto artis dengan diganti wajah kita.. lol) hahah… pokonya dijamin jadi cantik “edan”. Cewek yang lahir tanggal 15 Oktober 1987 ini juga punya lebiasaan aneh, suka mendadak kena sindrom-sindrom yang suka dibuat sendiri (contohnya, waktu itu doi lagi tertarik sama phenomena KCB dan dalam seminggu doi, jangan heran kalo dia bakalan membahas tentang KCB terus, baik cerita, pemain dsb. Ngga ketinggalan dia jadiin tabloin Bintang sebagai referensi juga…. Wkwkwkwkw), oke, doi juga jago dalam make-up (bekal yang dia dapet sewaktu begabung dalam sekolah model).


Itulah sekelumit kisah kasih teman-teman baiku (halah…. ) pokonya mereka adalah orang terdekat yang selama di kampus telah menjadi teman terbaik sampai saat ini, walaupun kadang gak pernah nyambung dalam hal music (Jazz lover-- me Vs. Metal-- GeaZiah) hahaha…. But anyway, everybody is unique kok, semua punya kesukaan yang berdeza-beza (dialect siti nurhaliza). Disamping itu, mereka juga telah memberikan pengalaman berharga dalam hidup (bermain band dalam lomba ESCW, yang tidak pernah terpikir sama sekali in my life), semua kelebihan yang mereka punya yang pastinya menjadi motivasi tersendiri bagi saya, yang masih harus belajar banyak. Thank god for giving them around, wish we would be a good friend together ever after…

Jumat, 04 Desember 2009

Just love the style...

stuffs that i (wonder) buy right now...




Kamis, 03 Desember 2009

A christmas carol movie, 'a precious taught about being an human creature'


Hi people, I’d like to share some movies I recently watched. Last weekend an old friend of mine asked me to watched new moon, the trailer of twilight series, but unfortunately we didn’t get the ticket, since everyone booked sooner than I did. Okay, then we decided to watch “a Christmas Carol” animation movie, and hey it was good… since now I started to “read” the movie than “watch” the movie, (it is always demanded since you’ve been in Critical analysis of Drama subject… lol)
Jim Carey was the dabber, and this movie is actually adaption from one of Charles Dickens tale stories, I was so exited when I knew it, since dickens become one of my favorite writer, he was one of the most famous writer in 19th centuries, when industrial revolution become the central issue at that time (I should already know this is one of his work… hahah) well okay, but I do now.
All rites, here a short review of the movie. The tale begins on Christmas Eve seven years, a pathetic old man named George Templeton Strong or Mr. Gorge is a wealthy man among the town always trough Christmas eve alone all his life, no friends, family besides… well in fact he had but he tends to be alone, the character is successfully portrayed since desire of poverty driven him so bad, he lives in a ghostly and gloomy house, scary and balmy city, and those make him live in so mysterious way. He acted like a ghost, everybody in his town scared of him. Once, the ghosts came and made him in a long past journey, remembered him of his pathetic childhood, and thus a mysterious black shadow of man showing him how the way he would die, the date was on Christmas time, and people in town talked about his life and worst there no even attended his burial.
When I heard about tale stories, it used to be a happy and funny story but this kind of different one, Dickens probably wanted to show his critics about in effect for people to recognize the plight of those whom the industrial revolution has displaced and driven into poverty, and the obligation of society to provide for them humanely. Well, okay it was just probably issue which exist but I rather to the end of the movie, it was satisfying me when finally Mr. gorge become the nice person since back from his “nightmare”, and he spend most of the time to make people happy and share good things with others.
There just always moral lesson from a tale stories, it is. This movie is kind of motivate me to become a better person in the future since death is a part of life, I just wonder where when we die, people will remember our ‘name’ as something precious and people could remember the good thing on it. And one thing, family is never been unforgettable thing in life since we just only could being safe and happy to have share precious moment like Christmas (since I’m a moeslim, there could be another context). Thank god, I born in a humble and complete family, and they always be there for me, and since God always have purpose to let me born in this world, I will attempt to make my life as useful as YOU wish.. amien.

Jumat, 27 November 2009

Just get stuck and u may says: Im drunk of Feminist Ideology


Baru-baru ini saya meminjam sebuah dvd kepada teman saya, film ‘The Proposal’ yang dibintangi Sandra bullock, miris yaa… hari gini baru nonton setelah dirilis beberapa bulan yang lalu (sambil mesem2, dan mikir betapa jauh ketinggalan nya diriku tentang wawasan film2 baru), tapi sudah lah, toh tak ada kata terlambat, di dalam tulisan ini juga saya ngga akan menceritakan whole story about this movie. Well, setelah menonton film ini, jujur saya sangat suka peran Margaret yang sukses diperankan sama si cewek yang juga memproduseri film drama comedy miss congeniality. Very impressive, mungkin tak ada yang aneh dari semua peran yang dia mainkan disemua film yang dia bintangi, tetap menonjolkan sisi independent, maskulin dan feminis nya. By the way, anyway, busway…. Tentang judulnya, agak ngeri2 dikit yaa ngomongin theory feminism, jujur sebagai salah satu mahasiswa sastra, saya banyak ‘dicekokin’ karya-karya sastra feminist, khususnya para pengajar wanita yang secara implisit mengatakan bahwa mereka ‘feminist’, yeaaa… maybe yes. Dari karya2 sastra yang pernah saya baca maupun tonton seperti Pride and Prejudice dan Becoming jane karya nya jane Austine, Tarian Bumi karya oka rusmini, Miss congeniality Sandra bullock, tokohnya Mirranda dalam Devil wears prada, siti Rayati karya nya siapa tuh… lupa… (hmm…), ato tokoh wanita yang diperankan oleh Marsya Timoty dalam film Otomatis romantic, terus juga tokohnya Lin dalam Bride wars. Semua kharakter utama nya adalah wanita yang mandiri, memperjuangkan hak-haknya, memiliki power sehingga mencitrakan sensualitas tersendiri, they cool. See, mungkin dari tulisan saya ini, saya ‘terlihat’ agak pro feminist.. hahaha, tapi terlepas dari siapa yang pro dan siapa yang kontra (yang pasti mereka yang mengaku para kaum masculine), secra tidak langsung, like it or not, saya adalah salah satu korban “feminist” yang akhirnya harus menyukai segala macam feminist character, termasuk buku2 yang berbau feminis juga yang sedang say abaca saat ini ‘see jane’s Lead’ yang ditulis oleh Louis.P frankel P.hd, buku ini menceritakan perlunya wanita maju untuk memimpin.
Para pembaca yang terhormat, dalam tulisan ini saya tidak akan memprofokasi anda untuk sama2 menjadi feminist juga yaa (especially you guys… hahaha…), saya hanya coba menuangkan ide yang tiba-tiba saja saya dapat dengan mendadak (sambel kali ah..) lewat tulisan yang sederhana ini. Pastinya kharakter, pola fikir seseorang dipengaruhi oleh lingkungan (you are what ur friend are), saya seorang anak yang dibesarkan oleh seorang ibu yang mandiri (of course I still have a dad) tapi sosok ibu terlalu berpengaruh besar dalam peran hidupku selama ini, ia sangat mandiri dan tegar (luv u mom), beliau seorang wanita karir yang sukses dan ibu rumah tangga yang baik, lanjuuuutt… juga buku2 dan film dengan secara tidak sadar telah menerapkan ideologinya pada penonton dan pembaca (you are what you read)!! That’s it… sehingga dengan pertimbangan ini mudah2an membuat perspective kita lebih luas tentang kecenderungan kharakter dalam diri seseorang, menjadi feminist bukan dosa besar kok, semua sah-sah saja, however… saya termasuk wanita independent yang tentu tetap memberikan respect pada pria, sehingga semuanya bisa berjalan selaras dan seimbang tanpa harus ada intervensi terhadap pilihan hidup individu. Jelas saya ingin menekankan cewek jaman sekarang harus mandiri, punya mind map sendiri, sehingga dengan ada dan tidak nya seorang cowok disamping kita kelak, wanita bisa Berjaya dengan segala impian dan harapanya.
Bravo feminist!!!